Suatu kali saya pernah ditanya oleh seorang siswa SMA kelas 3 “Kak, kalo abis lulus dari Fisika nanti kerjanya dimana?”, Deg… Sejujurnya pertanyaan semacam itu sangat menyulitkan sekali [sudah “sangat” pake kata “sekali” lagi heu…] para mahasiswa Fisika seperti saya dan mungkin bagi sebagian besar Mahasiswa Fisika di negeri kita tercinta ini [kayaknya sama sulitnya deh sama soal ujian mekanika kuantum Pak Triyanta kemaren yah? heuheu…piss ah…jangan pipis sembarangan tapi- pinjem istilah Ahmad Ridwan]. Saya ingat sekali cerita beberapa teman saya dari Fisika saat berkunjung ke bursa kerja ITB di Aula Barat beberapa bulan yang lalu, mereka bilang sangat sedikit perusahaan yang memerlukan seorang lulusan Fisika dan itu pun bukan perusahaan besar. Sebagian besar perusahaan itu membutuhkan seorang engineer atau seorang ahli rekayasa
“Dicari seorang lulusan Teknik anu, anu, dan anu…”
Kemudian waktu itu [di perpustakaan Fisika] saya membaca buku kumpulan profil alumni ITB angkatan 70-an yang dibagi ke dalam tiga jilid tebal. Isinya tentu saja kisah sukses alumni 70-an tersebut berikut wejangan-wejangan bagi mahasiswa ITB. Halaman pertama seingat saya alumni teknik arsitektur…halaman berikutnya teknik anu…teknik anu lagi…teknik anu lagi…dan akhirnya ketemu juga profil dua orang alumni Fisika era 70-an itu. Salah satunya sebagai pemilik biro perjalanan haji dan satu lagi bekerja di bidang manajemen. Lalu apa yang mereka tulis di buku profil tersebut? Mereka bilang pengembangan soft skills itu lebih penting daripada belajar Fisika [intinya mungkin mereka pengen bilang kalo gak ada gunanya sayah belajar Fisika toh emang gak kepake…tapi mungkin gak tega juga kalo ngomong kayak gitu heuheu…]. Trus yang lebih mengkhawatirkan lagi [saya bukannya nakut-nakutin lho…] temen saya cerita pas lagi “nongkrong” di Gelap Nyawang alias Nyawang ketemu sama alumni Fisika Universitas Anu di Bandung [tahu sendiri lah yang mana yang jelas bukan ITeBeh] yang terlihat murung alias lagi bad mood trus temen saya nanya “Kenapa Bang kok mukanya asem banget?” trus orang itu cerita kalo dia telah beberapa kali ditolak oleh beberapa perusahaan gara-gara di CV-nya bukan seorang engineer dan hari itu yang kesekian kalinya dia ditolak padahal dia bilang “Saya belum sempet diwawancara, eh… udah ditolak duluan” [begitu lah kira-kira].
Ketika saya mengambil mata kuliah Fisika dan Teknologi Polimer, suatu kali dosen mata kuliah tersebut, Dr. Suparno Satira, bercerita tentang Fisika dan dunia kerja. Dulu perusahaan minyak multi-nasional Schlumberger setiap tahun datang ke ITB bermaksud untuk merekrut tenaga kerja baru dengan syarat lulusan atau akan segera lulus dari jurusan Teknik, lalu suatu ketika ada mahasiswa Fisika yang iseng ikut mendaftar. Kemudian setelah mengikuti serangkaian test, mahasiswa Fisika tersebut menduduki urutan pertama diantara pelamar lainnya. Semenjak itu mereka tidak lagi strick hanya menerima lulusan Teknik tapi juga lulusan Fisika, dalam hal ini mungkin Fisika Bumi yang sekarang berganti nama menjadi Fisika sistem kompleks. Lebih lanjut bapak tersebut bilang kalau sebenarnya lulusan Fisika itu memiliki keunggulan di bidang pemodelan sistem dan penalarannya yang baik, tetapi kadang-kadang lulusan Fisika ini gak PeDe kalo dihadapkan pada dunia kerja. Mungkin saya pikir mahasiswa Fisika ini ibarat anak SMA yang “jauh tidak lebih siap” bekerja dibandingkan anak STM, mereka harus di training lebih lanjut agar siap bekerja dan saya yakin setelah mereka di training mereka mampu bekerja lebih baik dan pada dasarnya kemampuan mereka yang mumpuni itu.
“Saya ingat ketika membaca salah satu buku Richard Philip Feynman, salah seorang nobelis Fisika asal Amerika Serikat. Dia bilang, sebelum perang dunia kedua sedikit sekali perusahaan yang memerlukan jasa Fisikawan tetapi setelah perang dunia kedua usai banyak sekali perusahaan yang memerlukan jasa seorang Fisikawan”
Ada anekdot [entah apakah ini anekdot atau ada faktanya yang kemudian jadi anekdot] tentang Fisikawan dan engineer ketika diwawancara suatu perusahaan. Pewawancara tersebut bertanya pada seorang engineer diakhir sesi tanya jawab “Anda mau gaji berapa kalo anda diterima di perusahaan ini?” kemudian seorang engineer menjawab dengan yakinnya “se-anu pak!”. Berikutnya seorang Fisikawan dipanggil dan diakhir sesi tanya jawab ditanya hal yang serupa, kemudian seorang Fisikawan menjawab dengan ragu-ragu “mmm…terserah perusahaan aja deh pak”.
Jawaban yang saya berikan ke anak SMA itu….
“Pada dasarnya lulusan Fisika itu bisa kerja di bidang apapun…”
*ditulis oleh seorang pengangguran Fisika
jah… ngomong2 kok dikau nulis2 banyak yang mirip ama yang pernah saya tulis ya
(ke-geer-an). btw, nice exposition. Tapi kurang gencar tuh promosi blognya… Sering2 jalan2 sana sini juga, kasih komen ke blog2 orang lain yang gak kita kenal juga gpp…
inget Jah… katanya mau buka lapangan pekerjaan?!
hehehe..
kabuar ah…
#to Ahmad Ridwan
“hehe…terinpirasi dari blog lawas ahmadiridwan, wah kayaknya ndak usah promosi lha wong pada dateng sendiri kok mas ke sini”…
#to Anto
“mmm…boleh juga tuh kita bikin lapangan pekerjaan…kayak di SIM CITY”
Hueehehehe..ni kang hamzah yaa.. keep writing..
mana?katanya mau ada artikel biar dapet s2 di LN, huhuhu….ko g bilang2 sie kalo ada balesan dari panitia FIB!!!!
#to Ica:
Ok deh nanti aku upload artikel nya…
kuliah Fisika mau jadi apa???
hmmm…..sampe sekarang juga nggak tau jawabannya…hahaha….
btw, kalo nggak salah dulu ikutan acara di ICTP yah?
# to mas Heribertus
wah wah wah…kalo ditanya masalah itu saya juga bingung tuh mau jadi apa…retoris
yang jelas pengen jadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa heuheu…
iya bulan juni tahun kemaren saya ke ICTP, sebelum ada summer school on particle physics
yah.. beginilah nasibnya orang Fisika. Mungkin suatu saat Indonesia bisa menghargai seorang fisikawan dengan layak. Kapan?? (kapan-kapan…
)
Tenang ajalah. Rejeki ma jodoh mah ditangan Tuhan. (tapi klo g diambil? ya… di tangan Tuhan terus,,, he3x…)
Dah ah… Bikin toko online yuks. Jualan apa kek di internet.
Bener kata Abang, satuju lah…
REJEKI ma JODOH ya Bang…
Jualan solusi soal2 fisika atau sains laku ga ya…
eh, aku dapet email yang sepertinya berindikasikan penipuan berskala internasional :O
loh bukannya dah secure kerjaan buat ngerjain quantum dots di low temperature pake dilution refrigerator…????? At least untuk beberapa tahun ke depan…..
Well, real physicist knows that absolute stability is not fun, since it always at the lowest energy. So, physicist like unstable life…… as long as it is exciting. (ntar aku kenalin deh ama Sensei yg ngomong gitu).
sorry euy, ini cuman nge-tes (nge-junk) buat komentar
rezeki sih dimana aja..
ini salahnya kita para fisikawan…
skeptis..
mentalnya tempe!
belon apa2 udah mikir “siapa yg mau nerima lulusan fisika?”
makanya perluas wawasan dan kembangin softskill…
we decide what to be, rite?
ok
he…he… orang fisika tidak usah takut masalah pekerjaan, wong memang gak ada pekerjaannya di negara berkembang seperti negara kita ini, kita akan berguna bila ada di negara maju……….
makin gk semangat saya d fisika,,,,
wah gua lulusan fisika…..malah dah bosen kerja sama orang….mendingan kerja sendiri……………..financial freedom istilahnya
,
jangan takut masa depan….selama kita berusaha dan berdoa pasti akan diberi kemudahan…..
tau gak….klao jadi petani tuh ternyata duitnya lebih gede daripada kerja di minyak
.
jadi pokoke dapet ijasah itb dulu aja…..jurusan nomor 2……pokoke lulusan cap gajah bisa dapet nilai lebih. tapi gua dah gak tertarik lagi pake ilmu gajah….sekarang lagi pake ilmu padi.